Gempa Sumbar 3009 (1) : “…..Earthquake Did Not Kill People, the Bad Building Did It…..”
Tanggal 30 September 2009 sore ranah Minang diguncang oleh gempa tektonik berkekuatan 7.6 pada skala Richter (Koran Tempo tanggal 11 Oktober 2009 memuat berita koreksi dari Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Padangpanjang yang menyatakan bahwa skala gempa tersebut berdasarkan data yang lebih akurat adalah sebesar 7.9 pada skala Richter). Epicentrum gempa terletak 52 km dari Padang arah Barat Daya Pariaman.
Akan terjadinya gempa dahsyat di kawasan pantai Barat Sumatera (khususnya Sumatera Barat dan Bengkulu) pada hakekatnya sudah dipredikasi oleh para ahli yang melakukan penelitian intensif sejak terjadinya bencana gempa & tsunami Aceh pada penghujung tahun 2004 yang lalu. Diprediksi bahwa terdapat potensi gempa yang diakibatkan enersi yang terakumulasi di patahan benua yang terletak di sebelah Barat kepulauan Mentawai. Potensi akan terjadinya fenomena alam ini sudah dapat dipastikan. Yang masih tidak terjangkau oleh ilmu pengetahuan sampai saat ini adalah prediksi yang lebih akurat menyangkut kapan akan terjadinya peristiwa dahsyat tersebut. Hasil penelitian Profesor Kerry Sieh dari California Institute of Technology (sekarang Direktur Earth Observatory of Singapore, Nanyang Technological University) dan Danny Natawidjaja pakar geoteknology dari LIPI menyangkut hal tersebut telah disiarkan secara luas dalam publikasi ilmiah maupun
media masa, baik di luar negeri maupun di Indonesia sendiri. Dalam rangka mitigasi bencana, hal inipun telah disampaikan kepada masyarakat dan menjadi bagian dari skenario pelatihan yang telah dilakukan bagi masyarakat Padang. Sebagian besar masyarakat tampak telah memahami dan sadar akan potensi bahaya gempa yang dapat memicu tsunami ini, yang tampak dari reaksi spontan masyarakat yang segera menuju lokasi-lokasi yang dinilai aman terhadap bahaya tsunami, segera setelah gempa terjadi.
Alhamdulillah tsunami kali ini tidak terjad, tapi fakta yang tampak setelah gempa terjadi adalah menyangkut salah satu point penting dalam langkah mitigasi (mitigasi=pengurangan risiko) bencana gempa yang telah dilaksanakan selama ini : ketahanan bangunan terhadap gempa (!). Sejumlah besar bangunan ternyata rontok dan porak poranda akibat Gempa Sumbar 3009 (30 September 2009) tersebut. Inilah pemandangan yang mengejutkan bagi sebagian besar anggota masyarakat, dan pemandangan yang menyakitkan bagi mereka yang bergerak di bidang konstruksi.
Ini kemudian berkembang menjadi pemandangan yang memilukan setelah ternyata ratusan orang korban terperangkap dalam bermacam jenis bangunan yang runtuh dan porak poranda tersebut. Sebagian dari mereka masih hidup pada hari pertama dan kedua setelah bencana terjadi, tapi kemudian pada hari-hari berikutnya suara ini tidak lagi terdengar akibat langkah evakuasi yang tertunda dengan kendala utama tidak tersedianya peralatan yang sesuai dengan kebutuhan penyelamatan segera bagi mereka yang tertimbun dibawah runtuhan seberat
ratusan dan ribuan ton tumpukan puing, yang sebagian daripadanya berupa balok-balok beton dan tembok bekas dinding bangunan. Ratusan orang tewas secara sangat mengenaskan dalam reruntuhan puing bangunan yang selama ini tentunya sudah diasumsikan tahan terhadap goncangan gempa.
Fakta ini mutlak harus dipelajari dan diteliti secara seksama ditinjau dari sudut teknis dan legal-administratif. Kenapa sejumlah bangunan ini runtuh dengan cara yang demikian ? Apakah kira-kira penyebabnya, agar hal ini dapat dihindarkan pada masa-masa mendatang.
Kejadian ini menegaskan sebuah adagium yang menyatakan bahwa “earthquake did not kill people, the bad building did it…” (“gempa bukan bencana yang mematikan, bangunan yang buruklah yang membunuh manusia”), sebagaimana sejak lama dikemukakan oleh Rovicky Dwi Putrohari seorang pakar geoscientist dalam blognya http://rovicky.wordpress.com, yang sering dikutip oleh sejumlah blog lainnya.
Terdapat bermacam estimasi mengenai besar/luasnya kerusakan bangunan yang terjadi. Laporan awal dari dua stasiun TV swasta terkesan agak menyesatkan, ketika mereka menyatakan bahwa sebagian besar bangunan di kota Padang dan Pariaman hancur dan (disebutkan pula) “rata tanah”. Sesudah sejumlah media menerjunkan reporter mereka ke Sumatera Barat, makin hari makin diperoleh gambaran yang lebih akurat, sampai akhirnya Wapres Yusuf Kalla menyebutkan bahwa jumlah bangunan yang rusak adalah sekitar 17%. Walau angka 17% ini masih bisa diperdebatkan, sekurang-kurangnya berarti bahwa sebagian
besar bangunan di kota Padang dan Pariaman ternyata masih utuh dan mampu menahan getaran gempa yang cukup kuat tersebut.
Syukurlah, bahwa sejumlah hotel besar, kantor pemerintah & swasta, sekolah, ruko, dan berbagai jenis bangunan lainnya , kalau menggunakan adagium diatas ternyata tidaklah tergolong pada “bad building” yang bisa membunuh tersebut. Yang katanya 17% itulah yang perlu dipelajari dengan seksama agar risiko bencana akibat “bad building” ini dapat dikurangi pada masa-masa mendatang.
Apa kira-kira penyebab dari keruntuhan fatal sejumlah bangunan itu ? Hanya pemeriksaan teliti dan analisa rinci yang dapat mengungkap penyebab sebenarnya. Karena masa tanggap darurat yang relatif terbatas (normalnya 2 bulan, tapi media mengutip pernyataan gubernur Sumbar bahwa ini dapat dipersingkat menjadi 1 bulan), berarti puing-puing itu harus segera disingkirkan agar langkah selanjutnya berupa aktivitas Rehabilitasi dan Rekonstruksi dapat pula segera dimulai. Ini berarti hampir-hampir tidak mungkin akan diadakannya penelitian yang seksama guna mengungkapkan penyebab keruntuhan. Kalau penyebab tidak diketahui, dapat pula dipastikan bahwa kita tidak akan memperoleh pelajaran berharga dari petaka maut ini.
Walau demikian, dengan melihat fisik keruntuhan dan kerusakan yang terjadi sejumlah kemungkinan penyebab sebenarnya dapatlah diidentifikasikan/diperkirakan , sebagaimana berikut ini :
1) Bangunan lama yang berupa bangunan 1 lantai yang kemudian diupgrade menjadi bangunan 2 lantai atau lebih dengan menggunakan fondasi dan struktur utama bangunan yang tidak dirubah/diperkuat/ disesuaikan secara teknis.
2) Bangunan baru berlantai 1 atau lebih yang pembangunannya tidak didasarkan pada suatu Rencana Teknis yang memadai.
3) Bangunan berlantai 2 atau lebih yang memiliki Rencana Teknis yang memadai, tapi proses pembangunannya dilakukan berbeda/menyimpang dari ketentuan pada Rencana Teknis dimaksud, baik dengan sepengetahuan atau tanpa sepengetahuan Pengawas.
4) Bangunan yang dibangun tanpa adanya rencana teknis sama sekali (terutama bangunan rumah di daerah perkampungan), yang dibangun tanpa berpedoman pada kaidah teknis yang benar (ukuran fondasi, teknis pelaksanaan pekerjaan pembetonan, ukuran sloope & kolom beton, kualitas adukan beton, kualitas bahan plesteran, dan lain-lain).
Berbicara mengenai standard dan peraturan menyangkut pelaksanaan pembangunan berbagai jenis bangunan sipil, Indonesia pada hakekatnya telah memiliki sejumlah aturan dan pedoman yang cukup lengkap dan jelas, termasuk untuk bangunan tahan gempa. Penerapan peraturan ini secara umum telah dilakukan, terutama dalam menyangkut menyangkut bangunan fasilitas umum dan perkantoran. Pembangunan perumahan di daerah perkotaan seperti Padangpun seyogianya telah diawasi secara ketat.
Gempa Sumbar 3009 ternyata menunjukkan fakta yang berbeda. Sejumlah bangunan yang runtuh (terutama ruko, kantor, hotel) tampak runtuh secara tidak wajar. Keruntuhan terjadi justru pada konstruksi struktur utamanya (kolom dan balok beton). Dinding yang retak masih tergolong wajar untuk gempa berskala 7.9 pada skala Richter. Dinding memang hanya berfungsi sebagai dinding/partisi yang tidak memikul beban bangunan ataupu goncangan yang relatif besar. Kalau bangunan ini memang telah memenuhi persyaratan teknis baik pada fase perncanaan maupun fase pelaksanaan, kenapa mereka runtuh sedangkan bangunan lain sejenis di sekitarnya masih utuh berdiri ?
Salah satu bangunan di kota Padang yang paling banyak diberitakan media elektronik dan cetak selam 10 hari terakhir ini adalah hotel Ambacang. Runtuhan bangunan hotel, upaya evakuasi korban yang melelahkan yang dilakukan oleh berbagai tim relawan Indonesia dan asing, wajah para keluarga dan kerabat yang menantikan kepastian anggota keluarganya yang masih tertimbun runtuhan yang menggunung, secara menyeluruh menunjukkan kepada jutaan pemirsa dan pembacanya drama kemanusiaan yang sangat mencekam.
Inikah yang dimaksud ‘bad building’ dalam adagium diatas ? Kenapakah ini bisa terjadi ?
Menyangkut hotel Ambacang ini, ternyata seorang warga, bung Denni Risman yang mengenal baik Hotel ini menuliskan kesan dan pendapatnya dalam accountnya di ‘facebook’ yang kemudian dikutip oleh RantauNet. Karena alur pemikiran yang sejalan, saya menghubungi bung Denni meminta izinnya untuk memuat artikelnya tersebut di ‘kadaikopi’’. Bung Denny menanggapinya secara positif : “……..tulisan saya berdasarkan pengalaman saat jadi pengurus klub renang ambacang dan melihat sendiri proses pembangunan hotel. silahkan dimuat, agar semua orang bisa belajar dari kesalahan…..”.
Silahkan diikuti penuturan berharga bung Denni Risman berikut ini :
Kenapa Hotel Ambacang Roboh dan banyak makan korban?
Wednesday, October 7, 2009 at 1:30pm
Hotel Ambacang atau The Ambacang Hotel yang terletak di Jalan Bundo Kanduang dan berada di jantung kota padang, tiba-tiba menjadi terkenal. Dia menjadi tontonan kita setiap hari di televisi, malah ada TV One dan Metro TV menjadikan pusat lapooran dari sana.
Dia menjadi berita, karena memang pantas diberitakan. Ada ratusan orang terperangkap (info awalnya) dan ada yang masih hidup di dalamnya (info berikutnya). Tapi kabar itu terus menjadi kabur, dan semakin menguap seperti debu. Silih berganti tim sar asing datang dan pergi.
Klub Renang Ambacang
Sebelumnya, saya mau cerita dulu, kenapa saya mengenal begitu dekat Hotel berbintang tiga tersebut. Sebelum hotel itu berdiri tahun 2004, hotel itu hanyalah sebuah tempat perbelanjaan, AMbacangan Plaza kemudian diganti tempat mainan . Dan disana juga ada KFC. DIbelakanga KFC itu ada kolam renang, dengan panjang 25 meter dan lebar 10 meter. Disana setiap sore,para orangtua mengantar anaknya lese berenang kepada Mardian ‘Andre’. Pelatih renang Padang yang jago melatih dasar renang. Karena banyaknya yg kursus, akhirnya tahun 2000-an didirikan klub renang Ambacang Swiming Club, dan pada periode 2002, ketika saya ikut memasukan anak les berenang disana, saya pun bergabung dengan klub itu dan kemudian ditunjuk jadi Sekretaris ASC. Pada masa saya jadi pengurus itu, dengan ketua S. Budi Syukur, klub ini mulai disegani di Padang, dan dikenal di tingkat nasional. Kami memiliki salah seorang perenang alam Harizal, Sekitar tahun itu 2002, harizal kami ikuti berlomba di tingkat Asean utk kelompok umur membawa nama Indonesia, dimana saat itu saya langsung jd pendampingnya. Saat itu dia berhasil menjadi perenang terbaik di kelompok umur 3, usia 12-13 tahun dengan meraih 4 medali emas. Setiap sore, mulai pukul 16.30, klub latihan hingga menjelang magrib. Malah kalau mau bertanding, latihan hingga malam. Kolam ini sangat bagus untuk melatih sprint, krn kolam pendek 25 meter. Airnya pun bersih, dibanding kolam lain
Dan kolam renang itu, menjadi saksi kelahiran perenang yang kemudian menjadi salah satu atlit PAL saat ini. Untunglah, ketika gempa terjadi, para atlit klub selamat. Alhamdulillah
Ketika hotel mulai dibangun tahun 2004, kolam renang ini sempat mau dibongkar. Alasan pemilik mau dijaidkan lokasi parkir hotel. Tapi karena negoisasi kami dari para pengurus, akhirnya kolam renang ini tidak jadi dibongkar.
Cagar Budaya
Gedung utama hotel ini adalah bekas gudang dan kantor Pantja Niaga (?). Gedung peninggalan belanda yang termasuk dalam cagar budaya kota Padang berdasarkan Perda yang dibuat Walikota Syahrul Ujud sekitar tahun 90-an. Karena itu, bangunan tersebut sebenarnya tidak boleh dirubah fungsi apalagi dironbak. Pada jaman Zuiyen Rais jadi walikota -pengganti Syahrul Ujud- Bangunan ini tetap dipertahankan. Makanya, pemilik bangunan –seorang etnis keturunan tionghoa- hanya menjadikan bangunan itu sebagai Plaza, tempat belanja.
Tapi ketika jamannya Fauzi Bahar mulai menjabata Walikota untuk periode pertama 2004-2009, izin langsung keluar. Pemilik langsung membangun kamar di bangunan induk yang mengarah ke SMK 9. Sempat terjadi polemik dari warga kota Padang, tentang pembangunan hotel yang merusak cagar budaya itu. karena kecerdikan pemilik, bangunan diluar hanya dirombak atapnya, sementara di belakang langsung dibangun tiga lantai. jadi kesan awal berdiri, bangunan itu hanya berlantai dua, tapi di dalam dan belakang sudah berlantai tiga.
Sementara dibelakang, di lantai dua bangunan KFC, yang tadinya untuk perkantoran, dijadikan tempat ruang pertemuan, biliard dan pijat refleksi
Hotel Tumnbuh
karena terletak di jantung kota. Hotel ini menjadi ramai. karena itu, pemilik kemudian menambah kamar hotel, dengan menambah satu lantai lagi di bangunan induk. Sementara di belakang yang leter L, diatas bangunan KFC, diperlebar bangunannya dengan menjorok ke kolam renang. Caranya dengan memasng pondasi di atas pelataran kolam renang –kolam renang sendiri tidak diganggu sama sekali saat pembangunan dibelakang itu–, dan berdirilah kamar-kamar berlantai tiga –awalnya– dan kemudian bertambah menjadi lantai 6.
Jadi, pembangunan hotel ini terlihat tidak dirancang dari awal bangunannnya berlantai berapa dan bentuknya. Dia menjadi hotel tumbuh.
Saya terakhir masuk ke hotel itu tahun 2009, sekitar februari (?) saat workshop kogami di lantai enam. Melihat lorong dan tangga yang berada di tengah gedung -penyambung bangunan induk dan bangunan sayap yg berlantai 6 — saya sempat mengatakan bagaimana rawannya hotel itu saat evakuasi gempa terjadi. Lorong di leter L sangat sempit, dan tangga turun berliku.
Kita bisa melihat d CCTV hotel, bagaimana tamu hotel sempat bingung lari ke arah tangga. karena dari lorong mereka harus mutar ke kanan dan belok lagi ke kiri untuk bangunan induk. bagi bagunan leter L mereka lurus ke tangga, belok ke kiri dan belok lagi ke kanan. tapi semuany tetap berada di tengah hotel.
Untuk jalan keluar tangga ada muaranya. Satu ke arah pintu masuk kolam renang dan satu lagi arah ke dalam hotel. tangga yang agak besar yang berada di lantai dua itu, tangga awal bangunan hotel.
Jadi kita bisa melihat kenapa hotel itu rebah ke belakang, ke kolam renang, terutama di bangunan KFC yg di depan Markas Polisi Militer. karena pondasinya tidak kuat lagi menahan beban gedung yang sudah berlantai enam, karena pondasi di pelataran kolam renang itu sangat kecil, dan tidak dalam.
Kemudian kenapa korban diperkirakan berada di tangga, atau ditengah bangunan –atau sambungan bangunan– karena tangga berada disana. Dan parahnya lagi, patahan bangunan berada disambungan itu. Maka, bisa diduga, mereka terjepit dan tertimbun disana.
Begitulah jika kekuasaan dan kekuatan bermain dalam bisnis. faktor keselamatan tidak lagi diperhitungkan dalam bangunan hotel itu.
Dengan aset sejumlah gunung berapi aktif yang dimilikinya yang merupakan bagian dari “cincin api” (ring of fire) yang terkenal itu, ditambah dengan Patahan Semangko yang membelah provinsi ini, ditambah pula dengan keberadaan lempeng tektonik benua di Barat Mentawai (yang
menurut analisa para pakar sedang terus bergerak menghimpun enersi dengan kecepatan gerak subduksi sebesar 50 mm/ tahun); tidak diragukan lagi bahwa kawasan ini memang sangat rawan terhadap gempa bumi yang sewaktu-waktu dapat bersumber pada ketiga situasi dan kondisi geologis tersebut.
Dalam rangka mitigasi bencana gempa, pihak pemerintah dan segenap anggota masyarakat seyogianya benar-benar berorientasi secara serius terhadap peraturan teknis bangunan yang telah ditetapkan (atau tambahan peraturan baru nantinya). Marilah kita semua, anggota masyarakat, kontraktor, konsultan perencana, konsultan pengawas, pejabat yang terkait dengan perizinan bangunan, pejabat yang terkait dengan pengawasan bangunan, pejabat yang terkait dengan penetapan kebijaksanaan pembangunan, pejabat yang terkait dengan penetapan penggunaan tanah (land use); untuk menjadikan kenangan atas bangunan yang runtuh dan porak poranda di Padang, evakuasi korban, wajah-wajah korban, kantong-kantong
jenazah, semuanya dapat terpateri di layar kenangan otak kita masing-masing; untuk dimunculkan kembali pada saat kita akan membuat keputusan yang menyangkut pembangunan rumah dan gedung di Sumatera Barat. Ingatlah bahwa setiap langkah kebijaksanaan yang kita buat berpotensi untuk menimbulkan bahaya dan bencana bagi kehidupan sejumlah orang lain. Marilah kita jadikanlah pertimbangan moral ini berada diatas kepentingan materi dalam bentuk apapun. Amanah atas keselamatan bangunan ini berada di atas pundak sejumlah orang yang justru dibebani dengan amanah tersebut.
Bagi anggota masyarakat yang membuat rumahnya sendiri, selain adanya rencana teknis yang benar, disarankan andai terpaksa melakukan penghematan karena dana yang terbatas, lakukanlah langkah tersebut secara benar. Utamakanlah penggunaan dana pada hal-hal yang menyangkut kekokohan bangunan (pondasi, sloop beton, tihang & kolom beton, pembesian dan kualitas beton, kualitas adukan & plesteran, balok kayu kuda-kuda) . Lakukanlah penghematan melalui pembangunan rumah tumbuh/bertahap sesuai dengan kondisi keuangan, atau penghematan atas bagian-bagian bangunan yang tidak menyangkut kekokohan bangunan (lantai keramik, kunci-kunci yang relatif mahal, cat, pagar, dan asesoris bangunan lainnya).
Inilah salah satu pelajaran amat sangat berharga yang dapat kita tarik dari peristiwa Gempa Sumbar 3009. Semogalah akibat dari bencana ini dapat segera diatasi dengan serentetan langkah penanggulangan, rehabilitasi dan rekonstruksi yang tepat dan cepat. Ini barulah langkah awal dari serentetan pula langkah mitigasi selanjutnya pula yang harus dilakukan bersama oleh segenap pemangku kepentingan. Fenomena gempa (vulkanik & tektonik) dengan segala fenomena susulannya (tsunami, longsor, lahar panas & dingin, dll) adalah bagian dari perubahan muka bumi yang tidak dapat dihindarkan di ranah Minang. Dengan langkah antisipasi dalam bentuk mitigasi bencana yang tepat, potensi bencana yang ditimbulkannya insyaallah akan dapat diminimalkan. Semoga Allah SWT selalu melindungi warga dari ranah yang cantik ini.Amiin……. [eb]




















Turut berduka cita sedalam-dalamnya atas gempa Sumatra Barat.
btw: Maaf, tahunnya salah…
[...] Alhamdulillah tsunami kali ini tidak terjad, tapi fakta yang tampak setelah gempa terjadi adalah menyangkut salah satu point penting dalam langkah mitigasi (mitigasi=pengurangan risiko) bencana gempa yang telah dilaksanakan selama ini : ketahanan bangunan terhadap gempa (!). Sejumlah besar bangunan ternyata rontok dan porak poranda akibat Gempa Sumbar 3009 (30 September 2009) tersebut. Inilah pemandangan yang mengejutkan bagi sebagian besar anggota masyarakat, dan pemandangan yang menyakitkan bagi mereka yang bergerak di bidang konstruksi…..(baca selengkapnya) [...]
Seperti apa kondisi konstruksi jembatan (yang nota bene telah mengacu standar beban gempa), semoga tidak mengalami kerusakan. Turut bela sungkawa atas musibah Gempa Sumbar 3009 (makksudnya 30 Sept, khan?).
Bung Edi & Mamik R,
Hehehehe, “3009″ maksudnya memang “30 September”. Jadi tahunnya nggak salah. Maaf agak membingungkan.
Ada yang menyingkat Gempa 30 September ini dengan “G30S”. Menarik, mungkin karena korbannya sama-sama banyak.
Kalau saya lebih melihat fenomena alam yang berubah menjadi bencana ini dari sisi pelajaran yang dapat diambil dan digunakan pada waktu-waktu mendatang.
[...] http://kadaikopi.carpediem123.com/?p=2564 [...]
Salam kenal,..
Terima kasih atas tulisannya..
Ini bukan sekedar informasi maupun wawasan buat kami, tapi sekaligus menjadi tambahan ilmu dan pengalaman.
Sekali lagi terima kasih.
juragan@duniatekniksipil.web.id
Bung Iwal Islamuddin,
Senang berkenalan dengan anda, dan saya juga sudah mampir di “Seputar Dunia Teknik Sipil”. Blog yang bagus dengan isi yang bermanfaat menyangkut dunia teknik sipil.
Ya, akibat gempa Sumbar pada kehancuran sejumlah bangunan ini seperti saya sebutkan diatas :”…..pemandangan yang menyakitkan bagi mereka yang bergerak di bidang konstruksi…..”.
Walau setiap semester sejumlah perguruan tinggi “dari Sabang sampai Merauke” mencetak sarjana Sipil, dan ribuan STM (sekarang SMK)memproduksi ratusan ribu tenaga menengah bidang bangunan, ternyata penerapan ilmu ini belumlah merata di kehidupan sehari-hari.Para tukang (kecuali Proyek berskala memengah-besar) jarang yang merupakan jebolan STM, pada umumnya adalah mantan kenek bangunan yang “naik kelas” jadi tukang.
Sejumlah besar bangunanpun dimensi kolom, balok, sloof, dan ringbalk yang terbuat dari betonpun sekadar diserahkan pemilik pada pengalaman tukang yang menanganinya. Adukan dikerjakan secara manual atau beton mollen dengan komposisi adukan yang amburadul.
Dan menyangkut “nurani”, kebanyakan tenaga teknik sipil ini juga banyak yang sudah lupa dengan kode etik perencana, atau pengawas, atau kode etik perusahaan konsultan.
Alhamdulillah, cukup banyak para idealis yang “bergentayangan” di dunia maya. Mari idealisme dan ilmu serta pengalaman komunitas teknik sipil ini terus kita bina dan kembangkan melalui pembinaan jaringan yang bermanfaat antara kita.
Wassalam.
BENCANA
(Pengertian dan Pemahamannya)
Oleh:
Herman Moechtar
Pusat Survei Geologi, Badan Geologi (DESDM), Jl. Diponegoro 57, Bandung 40122. E-mail: hmoechtar@yahoo.com
Apa bencana itu sebenarnya?. Suatu pertanyaan yang jarang terlontarkan, karena hampir semua orang telah mengetahui ataupun telah merasakan atau setidaknya mendengar. Yang jelas, bencana adalah suatu kondisi atau keadaan yang tidak diinginkan oleh siapapun, karena disamping merusak juga dapat menghancurkan. Mengenai kerusakan, sudah barang tentu bukan saja kerugian harta benda tapi terkadang menelan korban manusia. Namun yang lebih penting lagi untuk dipertanyakan adalah: kapan timbulnya bencana tersebut dan bagaimana proses terjadinya ?. Atau, sejauh mana aktifitas kegiatan bencana tersebut, serta bagaimana mengatasinya ?. Kita paham untuk menjawabnya adalah tidak sederhana, karena kadang-kadang bencana dapat timbul disamping karena tingkah laku alam (bencana alam murni) juga dari perilaku manusia.
Kalau kita sejenak merenung dan menelaah arti bencana secara umum, maka seyogyanya bencana itu dapat dibedakan menjadi 3 (tiga) kelompok, yaitu: kelompok bencana politik, kelompok bencana ekonomi/budaya, dan kelompok bencana alam. Ironisnya, ketiga bencana ini dalam penanggulangannya kadang-kadang mempunyai kaitan satu sama lainnya. Sebagai contoh, untuk mengatasi bencana alam diperlukan ekonomi/ budaya yang memadai dengan kondisi politik yang stabil tentunya. Mungkinkah suatu negara yang sedang terlanda bencana politik akan memiliki ekonomi/ kebudayaan yang “baik” ?, dan sebaliknya dengan kemampuan ekonomi/kebudayaan yang minim, tentunya sulit bagi kita untuk melakukan tindakan penagulangi secara sempurna dalam mengatasi bencana alam. Masalah ini akan terjawab secara rinci dan seksama, seandainya berbagai pakar dari berbagai disiplin ilmu terkait turut mengkajinya. Komplikasi bencana yang disebutkan ini dapat saja terjadi pada negara yang sedang berkecamuk perang, dengan kondisi kawasan yang rawan bencana alam. Sebagai contoh, dapat dibayangkan seandainya negara Jepang apabila tidak didukung oleh kondisi politik dan ekonomi/ budayanya yang memadai dengan keadaan wilayah yang rawan akan bencana alam itu, bagaimana jadinya negara tersebut. Guna menanggulangi bencana alam ini, Jepang telah menyedot anggaran terbesar untuk kepentingan sektor ini, yang digunakan untuk dana penelitian, peramalan hingga pembenahannya. Oleh karena itu, Jepang adalah salah satu negara yang berhasil dalam menjinakkan dan menanggulangi bencana alam. Ini terbukti dengan keberhasilan meraka yang secara optimal dapat menekan kerugian harta benda dan jatuhnya korban manusia apabila negara ini terlanda bencana alam. Dengan demikian, Jepang dengan kondisi daerahnya yang rawan bencana alam, tapi sukses didalam menanggulanginya karena ditunjang oleh kondisi politik yang stabil dan didukung oleh ekonomi/budaya yang memadai. Lalu bagaimana dengan Indonesia ?. Mudah-mudahan kondisi politik dan ekonomi/ budaya dikemudian hari akan semakin membaik, sehingga Indoensia yang rawan bencana alam akan tertanggulangi secara baik pula.
Dari uraian di atas, terlihat bahwasanya didalam membahas bencana bukanlah suatu hal yang mudah. Pembicaraan selanjutnya lebih ditekankan pada pemahaman terhadap bencana alam, yang berkaitan dengan disiplin ilmu kebumian (geologi) tepatnya suatu aktifitas fenomena alam geologi Kuarter, meskipun dalam menanggulangi peristiwa tersebut melibatkan berbagai disiplin ilmu lainnya, seperti: geofisika, seismologi, teknik sipil, geografi, dan sebagainya.
Apakah bencana alam itu dapat dicegah? Suatu kenyataan untuk mencegahnya sampai saat ini sulit dilakukan, karena berkaitan dengan suatu perjalanan dari mekanisme dan proses bumi yang mau tidak mau harus diterima. Lalu bagaimana?, satu-satunya jalan adalah dengan cara menanggulanginya. Untuk penanggulangan ini diperlukan suatu tindakan pencegahannya. Tindakan pencegahan dalam arti kata untuk mengatasi bencana tersebut. Kebutuhan akan tindakan ini tentunya memerlukan suatu koordinasi yang baik dan terpadu dari berbagai pihak dengan melibatkan berbagai disiplin ilmu yang disebutkan di atas. Namun, langkah awal yang baik dalam membahas penanggulangan bencana alam ini, yaitu melakukan peramalan terhadap bencana yang akan terjadi. Untuk itu, perlu adanya suatu penelitian, bukan yang dimaksud dengan suatu penelitian yang dilakukan apabila bencana telah terjadi.
Sesuatu yang tidak dapat terpungkiri, apabila terjadi periistiwa bencana alam di negeri ini, maka berbondong-bondonglah para pakar ilmu kebumian menelaah dan mendatangi daerah tersebut. Berbagai kupasan dan tanggapan di media masa, seminar, simposium, dan sebagainya terus mengalir dengan mengeluarkan biaya yang tidak sedikit. Semua itu bukan tidak bermanfaat, namun kondisi dan situasi seperti itu sebetulnya lebih mengarah pada faktor pembenahan fisik saja, dimana lebih relevan apabila ditangani oleh Departeman Sosial, Departemen Pekerjaan Umum, Pemerintah Daerah, dam instansi terkait lainnya. Lalu apa yang harus diperbuat sedini mungkin oleh berbagai pakar tersebut ? Lakukanlah penelitian yang benar dan bermanfaat. Cobalah ramalkan kemungkinan akan timbulnya bencana alam tersebut, sehingga apabila bencana itu terjadi tidak menimbulkan banyak korban manusia dan kerugian harta benda yang tinggi. Sebagian besar pakar kebumian berpendapat bahwasanya peristiwa bencana alam itu tidak dapat diramalkan kapan terjadinya. Tapi lebih tepat dikatakan bahwa kita masih belum mampu untuk meramalkannya. Kenapa ?, karena peristiwa bencana alam itu adalah merupakan suatu rangkaian kejadian yang sifatnya teratur dan terjadi secara periodik.
Adanya suatu evolusi dinamika bumi secara periodik dan teratur, salah satunya dapat mengakibatkan terjadinya suatu proses. Proses ini dapat memberikan suatu dampak dari perubahan muka laut, iklim, dan tektonik. Yang terakhir, lebih dikenal sebagai suatu aktifitas dari pergerakan lempeng (plate) yaitu suatu blok kaku (rigid block) daripada kerak bumi dan lapisan atas (upper mantle). Dalam ilmu kebumian konsep pergerakan lempeng (plate tectonics) ini telah diterima dan dikembangkan. Sebagian besar pusat gempa bumi terjadi di sepanjang ini, dan 80% dari seluruh gempa bumi yang timbul berasal dari jalur laut Pasifik. Indonesia merupakan tempat pertemuan dari tiga lempeng utama (megaplates), yaitu lempeng Eurasian di utara, lempeng Pasifik di timur, dan lempeng Indo-Australian di selatan. Tumbukan dari ketiga lempeng inilah yang memberikan dampak terhadap timbulnya bencana gempa bumi, letusan gunung api, dan tsunami, yang menyebabkan negara kita sangat rentan terhadap bencana alam ini.
Lalu bagaimana?. Jelas disini mau tidak mau kita harus melakukan suatu penelitian dengan sasaran untuk menjelaskan proses tersebut di masa lalu hingga sekarang, yang selanjutnya kita ramalkan untuk masa mendatang. Mungkinkah itu?. Untuk menjawabnya, para pakar ilmu kebumian harus lebih memfokuskan dirinya pada data geologi yang terjadi selama zaman Kuarter yang menyangkut kurun waktu ± 2 juta tahun terakhir, khususnya kala Holosen (masa 10.000 tahun terakhir).
Untuk keperluan penelitian ini, tentunya dibutuhkan faktor-faktor kontrol dalam merekonstruksi proses tersebut. Faktor kontrol yang dimaksud adalah meliputi tektonik, iklim, perubahan muka laut; yang mana akhir-akhir ini telah menjadi bahan diskusi dan perbincangan oleh berbagai pakar kebumian di seluruh dunia. Apabila kita mampu menelusuri faktor-faktor yang berpengaruh pada proses tersebut, maka kita akan dapat merekonstruksi suatu rangkaian siklus-siklus kejadian dari peristiwa bumi. Dengan mengkalkulasi perkembangan rangkaian siklus itu, selanjutnya diharapkan dapat ditafsirkan kemungkinan proses peristiwa bumi mendatang dan meramalkan kemungkinan timbulnya suatu bencana alam. Sebagai contoh, dari data geologi yang teramati selama zaman Kuarter hingga sekarang di suatu daerah, kita telah memiliki suatu rangkaian dari siklus peristiwa bumi yang telah terjadi sebelumnya. Dengan memperhitungkan dan mengevaluasi proses ini, maka diharapkan dapat meramalkannya untuk masa mendatang. Setidak-tidaknya kita mengetahui kerawanan rawan tidaknya suatu daerah.
Lalu bagaimana caranya?. Lakukanlah suatu penelitian evolusi dinamika bumi di daerah-daerah cekungan Kuarter. Adanya suatu peristiwa bumi dari waktu ke waktu, akan meninggalkan jejak-jejak pada suatu daerah tertentu. Dimasa lalu kontrol tektonik secara global telah banyak diterapkan oleh berbagai pakar kebumian. Perubahan muka laut yang juga merupakan faktor kontrol peristiwa bumi penerapannya telah banyak dikerjakan, namun penelitian ini masih bersifat global untuk masa periode yang panjang dari suatu rangkaian siklus. Selain itu, pergeseran poros bumi akan menyebabkan terjadinya perubahan iklim. Akhir-akhir ini berbagai pakar kebumian telah menerima dan mulai melakukan penelitian dengan menguji adanya peralihan suatu periodik iklim (Milankovitch cycles) yang kisaran waktunya antara 20.000, 40.000, 100.000 dan 400.000 tahun. Pwendekatan studi ini dapat dilakukan dengan falsafah siklus stratigrafi atau astrostratigrafi. Ini adalah merupakan suatu tantangan dan sekaligus peluang bagi ahli geologi Kuarter.
Dengan perolehan informasi suatu proses peristiwa bumi di masa lalu yang dikaitkan dengan lama waktunya, maka tidak menutup kemungkinan peramalan proses peristiwa bumi di masa akan datang dapat dilakukan. Sebagai contoh, kita telah memperoleh suatu rangkaian siklus tektonik, perubahan muka laut, dan iklim di suatu cekungan Kuarter, maka kelanjutan proses tersebut untuk masa mendatang dapat diramalkan kejadiannya. Kesempatan tersebut, sebaiknya mulai dilakukan dan dimanfaatkan.
Sumbangan pemikiran sehubungan dengan pembahasan bencana alam tersebut di atas diharapkan dapat memperoleh tanggapan sekaligus menjadi tantangan bagi pakar kebumian di Indonesia dan juga dari mancanegara. Disamping masih belum adanya publikasi yang membahas secara rinci tentang hal tersebut, juga prinsip dasar para ahli kebumian yang masih dianut hingga sekarang adalah : “ Masa kini adalah kunci masa lalu” ( “The present is the key to the past”) , namun sudah saatnya kita berfikir dan mencoba:” Masa kini dan lalu adalah kunci untuk masa mendatang” ( The present and the past are the key to the future). Kita harus memulainya dengan tidak perlu menunggu model atau temuan baru dari pakar-pakar kebumian mancanegara. Sudah barang tentu hal tersebut tidak mudah dilakukan, karena kita dituntut untuk:
1. Berfikir secara filsafat, karena banyak hal-hal baru yang belum kita kenal dan ketahui seiring perkembangan ilmu kebumian akhir-akhir ini.
2. Kesegaran dan kepercayaan diri dalam menelaahnya, dengan jauh-jauh membuang pikiran bahwa pakar dari mancanegara mempunyai kemampuan yang lebih baik.
3. Sarana yang memadai.
Mampukah kita?. Dengan keadaan yang kita miliki saat ini, kami berkeyakinan bahwa kita mampu melakukannya. Bukankah kita telah memiliki institusi yang berkaitan dengan kepentingan tersebut, seperti: Badn Geologi, Puslitbang Geoteknologi LIPI, dunia pendidikan tinggi geologi (institut/universitas) dan sebagainya. Pakar-pakar kita harus mempunyai kepercayaan diri yang kuat, namun kesegaran juga harus diperhatikan. Kesegaran dalam arti kata untuk bekerja, yang berkaitan dengan bencana budaya di dalamnya.
PENUTUP
Masih tergiang dalam ingatan kita peristiwa bencana gempabumi/ tsunami Aceh di penghujung tahun 2004, gempabumi Jogyakarta pada bulan Mei 2006 yang diikuti oleh laporan terjadinya semburan lumpur Sidoarjo pada 29 Mei 2006. Bukan saja ahli kebumian tapi berbagai pihak telah memahami dan menerima bahwa bencana yang terjadi di Aceh dan Jogyakarta tersebut adalah peristiwa bumi oleh tektonik sebagai bencana alam biasa. Lalu, bagaimana dengan lumpur Lapindo ?. Suatu perdebatan yang panjang khususnya oleh berbagai pakar kebumian silih berganti, dan sebagian besar dari mereka telah menyimpulkan bahwa lumpur panas tersebut adalah sebagai mud vulkano, dan menurut mereka ada tidaknya kegiatan pemboran, bencana alam ini memang akan terjadi. Peristiwa alam ini dapat diterima oleh berbagai pakar ilmu kebumian, tentunya dengan latar belakang masing-masing sebagaimana yang diungkapkan dari temu ilmiah: “Semburan lumpur panas Sidoarjo analisa penyebab & alternatif Penaggulangannya” pada 7 Desember 2006. Terakhir, gempabumi Sumbar pada 6 maret 2007, gempabumi Jawa Barat selatan pada 2 september 2009, dan gempabumi Sumbar 30 september 2009 telah memporak-porandakan wilayah tersebut. Bukti, Indonesia rawan bencana.
Fenomena peristiwa alam gempabumi di atas, membuktikan bahwa kondisi lahan Indoensia rawan tektonik. Sebaliknya, peristiwa keluarnya lumpur panas di Sidoarjo, tentunya tidak terlepas kaitannya terhadap hubungan antara sumber dan pemicu terjadinya proses tersebut. Kita semua dapat menerima bahwa pada perut bumi di Sidoarjo tersebut terkandung material lumpur tersebut. Selanjutnya, bersamaan dengan terjadinya periistiwa tektonik regional dikala itu telah memicu material tersebut keluar kepermukaan. Kenapa demikian ?, hal ini disebabkan karena wilayah Sidoarjo adalah sebagai bagian dari daerah rawan bertektonik aktif. Artinya dengan terjadinya aktifitas tektonik regional itu telah memberi kesempatan kepada sesar/patahan selaku zona lemah dan rekah membuka, hingga menyebabkan material yang belum terkonsolidasi tersebut keluar. Suatu proses yang lumrah dan sederhana yang sering terjadi di alam. Tektonik regional yang dimaksud adalah berkaitan dengan gempa Jogyakarta dan daerah lainnya di Jawa. Dan tidak menutup kemungkinan peristiwa keluarnya lumpur panas yang dimaksud secara periodik telah terjadi sebelumnya, dan juga akan berlangsung dikemudian hari. Yang menjadi misteri adalah, sumber lumpur tersebut berasal dari mana ?, karena tingginya volume yang dikeluarkan. Untuk membuktikan hal tersebut, rekonstruksilah peristiwa yang dimaksud dan salah satunya dengan melakukan studi dinamika peristiwa bumi diantaranya dengan melakukan pendekatan studi siklus-stratigrafi/ orbital stratigrafi. Seyogianyalah, bencana alam lumpur Sidoarjo ini dapat ditanggulangi secara baik oleh Pemerintah. Dan Pemerintah tentu mampu melakukannya, karena masa bencana politik yang ditandai oleh turunnya Soekarno dan Soeharto yang diikuti oleh bencana ekonomi/ budaya ketika itu telah kita lalui. Semoga dengan ulasan ringkas ini, kita lebih mengenal pengertian bencana alam untuk ditelaah lebih lanjut di negeri ini, yang notabene merupakan salah satu fenomena geologi Kuarter.
Bung Herman,
Terima kasih karena telah berkunjung ke ‘kadaikopi’ dan memberikan komentar/saran/opininya pada 3 buah artikel di blog ini.
Disamping ketiga comment tersebut, saya merasa berbahagia karena saya 99.99% yakin bahwa kita sebenarnya sudah saling mengenal sejak hampir setengah abad yang lalu, tapi kemudian terpisah sesuai dengan jalan hidup kita masing-masing.
Sejumlah nama/informasi yang terdapat dalam 3 comment tersebut seperti “Matur”,”Palembang”,”polisi”, nama akhir “Muchtar”, dll meyakinkan saya bahwa bung Herman adalah adik dari Aty dan Muso, dan anak dari alm bpk Muchtar (”Kutar Buyuang”) dan almh ibu Sarinah, yang pernah menetap di jalan Dr Cipto, Palembang.
Kalau sempat “bongkar-bongkar” lebih lanjut ‘kadaikopi’ ada beberapa tulisan yang menyangkut Matur dan Palembang, 2 tempat di muka bumi ini yang juga saya kenal dengan sangat baik.
Oh ya, tulisan tentang gempa Sumbar 30 September 2009 rencananya akan terdiri dari beberapa artikel. Artikel ke 3 rencananya membahas tentang Manajemen Bencana dan Mitigasi Bencana. Di sana antara lain akan dibahas apa sih sebenarnya “bencana” itu.
Artikel tentang gempa ini penekanannya dilihat dari sudut konstruksi/transportasi/teknik Sipil yang merupakan bidang kiprah saya “jaman dulu”, terutama menyangkut sejumlah bangunan yang sekilas tampak runtuh secara sangat mudah, yang kemudian langsung dikaitkan dengan perencanaan bangunan tahan gempa. Yaitu bahwa bangunan2 di Sumbar belum dibangun “tahan gempa”.
Tulisan ini antara lain menekankan bahwa SEBAGIAN BESAR bangunan di sana ternyata dapat bertahan secara baik terhadap goncangan gempa sebesar 7,9 skala Richter (!).
Serial artikel gempa Sumbar ini dibuat sebagai bagian dari upaya mitigasi (pengurangan dampak) gempa di wilayah Sumbar, yang menurut para pakar dalam dan luar negeri masih terancam oleh prediksi adanya gempa berkekuatan sekitar 8,8 skala Richter yang berpotensi untuk membangkitkan tsunami dengan ketinggian sekitar 10 m.
Saya berpendapat bahwa informasi menyangkut ancaman bahaya ini dan langkah mitigasi yang ditetapkan semua pihak yang berwenang, seyogianya disampaikan kepada masyarakat dengan menggunakan semua media informasi yang ada.
Salah satunya adalah websites, milis sejumlah grup masyarakat, dan blog yang punya jangkauan berupa jaringan di cyber space yang sangat potensial untuk keperluan tersebut.
Dengan titik tolak berfikir inilah saya menyusun satu seri tulisan menyangkut gempa Sumbar di ‘kadaikopi’
Terima kasih atas tambahan masukan dari bung Herman. Silahkan sering-sering mampir di blog ini dan memberikan masukan yang bermanfaat untuk masyarakat, baik berupa informasi, opini, bahan pemikiran/renungan, dan lain sejenisnya.
Tertitip salam untuk Aty dan Muso.
Wassalam.
the Earthquake in Indonesia is really bad. i have some friends who live in Indonesia and they were injured because of the earthquake *
Leave your response!
Image Pilihan
Global Warming War
About Me
facebook
Categories
Tags
Archives
Meta
Kalender
Random Quote
Blogroll
Keluarga
Link : Minang
Link : Statistik
Link : Umum
Arthemia Premium
Komentar
online: mengapa tidak:)
edrianosmoy: sekilas awak alah mancaliak website kadai kopi... alun sadonyo lai... .iko nan awak cari dari dulo .awak berniat membangun sumbar dengan mendirikan sebuah Organisasi di dalam sumbar .Organisasi yang mempunyai misi utama membangun Sumbar/Minangkabau, baik di bidang kesejahteraan masyarakat, perekonomian, sosial maupun budaya dansebagainya. sekarang awak kuliah di UNP Paadang,, , mohon masukan nya dari bapak bargost... trimo kasih..
Dina: Ondeh iyo bana malu salamo iko awak suko bana samo carito carito nagari jauah, kironyo carito2 itu asanyo dari nagari surang... Tarimokasi untuak tulisan mamak yo...
Bandarost: Thanks for the nice compliment. Hope other visitors also feel the same....
Weelteneced: Hi, Congratulations to the site owner for this marvelous work you've done. It has lots of useful and interesting data.
Bandarost: Bung Yose, terimakasih atas tanggapannya. Saya pernah tanggal 5 Febr. 2009 menulis ttg hal ini di Surat Pembaca 'ANTARA' Sumatera Barat, dan memperoleh jawaban yg 'menjanjikan' :"...kami akan coba menelusuri dan mendorong Pemprov utk melakukan langkah2 strategis 'manikam jajak' ini...". Tapi ya itu...sampai sekarang belum tampak 'langkah2' dimaksud. Silahkan MPKAS, MAPPAS (karena di Thailand ini juga terkait dengan pariwisata) atau rekan & dunsanak lain yang juga punya perhatian dan punya network ke Pemprov mengingatkan Pemprov ttg tragedi masa lalu ini.Tks & Wassalam.
Yose: Masalah Death Railway Muaro Pekanbaru rasonyo awak dak usah manunggu pemda bergerak dulu awak sebai urang minang yg harus maju dulu dlm mengenang penyiksaan tentara Jpg. Kito harus mancontoh ka Masyarakat Peduli Kereta Api Sumbar yg tunggang tunggik mamaso jo malobi pimpinan daerah maiduikan Mak itam jo Kereta Api Wisata baitu pulo jo Romusako Awk kasadonyo harus malobi kaduo pimpinan/pemda Sumatra Barat jo Riau ba a supayo dengan mengenang jasa pahlawan awak utk maiduikan baliak jalur yang telah dirintis ole Nenek Moyang Kito mako kito harus membentuk kelompok yg akan maju mendesak masalah ko. trims.
Bandarost: Bung Andwi, sama2 terimakasih. Sayangnya, walau kisah 'Death Railways Muaro-Pekanbaru' ini sudah ditulis di blog anda dan di 'kadaikopi' ini, ternyata Pemda Sumbar samasekali belum memberikan perhatian yang memadai atas peristiwa bersejarah ini. Minimal melakukan upaya penelusuran yang dilakukan oleh para pakar sejarah. Saya juga sudah memberikan informasi ini ke website Pemda Sumbar. Hasilnya juga nihil. Sebagai urang awak saya malu atas kealpaan dan ketidak pedulian Pemda Sumbar atas tragedi kemanusiaan ini.Saya menghimbau urang awak yang lain yang untuk membantu menggugah kepedulian/awareness Pemda ini. Meminjam istilah 'Nagabonar' : apa kata dunia ? dengan segala sikap cuek ini. Wassalam
andwi valentine: ,.terima kasih telah mencantumkan link blog saya di artikel anda,. Info yang bagus dan lengkap,., ,...Terus berkarya untuk bangsa khususnya untuk nagari minang tercinta,.,., http://apvalentine.co.cc http://apvalentine.blogspot.com
Janofa Pasha: Atlantis yang sebenarya, semoga kita gak kecolongan lagi ya.
Bandarost: Oo ya...bisa sharing kisahnya bung Irzal...? Kalau ada kaitan-kaitan begini kelihatannya Pemda Sumbar baru mau ada perhatian...Malu awak, urang Inggris jo Balando sajo mambuekkan tugu untuak mengenang sejarah kemanusiaan ko....pemda Sumbar aniang-anaing se...
Irzal sarikoen: ternyata, kakek ku "Navis" adalah salahseorang yg selamat pulang dari logas
» Anda Punya Komentar?Klik & Tulis Disini
UserOnline
The Daily Dilbert
Most Commented
Most Viewed
Recent Comments
Spam Blocked